June 2013
2 posts
May 2013
5 posts
Halo! apa kabar para penghuni tumblr? sangat kangen dengan masa-masa sering nyempetin waktu buat posting sesibuk apapun. ternyata oh ternyata, semester 2 ini jaaaaaaauh lebih hectic dari semester pertama. selain harus ngurusin urusan kuliah, juga harus bagi waktu sama kehidupan berorganisasi. seru sih, walaupun pertamanya ngerasa kewalahan karena super duper extra ultra padet. mungkin kaget juga karena ini adalah pengalaman pertama jadi anak organisasi. dulu waktu SMP dan SMA cuma jadi anak ekskul aja. itupun gak terlalu aktif.
hikmah dari semua kesibukan ini adalah, alhamdulillah dapet pelajaran soal manajemen waktu, manajemen SDM juga. peningkatannya belum begitu signifikan sih, tapi udah mulai berefek ke kehidupan sehari-hari. seru! cuma… dampak yang paling kerasa dari ini semua adalah, semakin berkurangnya “me time” dan semakin kerasa bahwa waktu itu bener-bener singkat! dan harus dimanfaatin sebaik mungkin.
ada juga ketakutan-ketakutan yang muncul di pikiran, kaya “duh gue udah terlalu sibuk sama organisasi, ngaruh gak ya ke akademik?” jujur, kalimat itu seriiing banget mampir di pikiran. terutama takut IPK turun. sumpah, itu hal paling menakutkan dan gaboleh sampe terjadi. tapi dari organisasi juga lah gue disadarin bahwa organisasi gak boleh ganggu akademik, begitu juga sebaliknya. justru dengan organisasi, kita belajar banyak. gak hanya dari bidang akademik. dengan organisasi juga kita punya tantangan double, punya self note, punya deadline, yang menuntut kita untuk hidup lebih teratur, terorganisir.
pada akhirnya semua yang kita kerjakan emang harus balance :)
shape and color
to my words, my sentences,
whatever theme I touch,
whatever thought I utter.” —Frida Kahlo (via rarasekar)
April 2013
6 posts
Yang fana adalah waktu. Kita abadi:
memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa.“Tapi yang fana adalah waktu, bukan?”
tanyamu.
Kita abadi.- Sapardi Djoko Damono
Menyimpan perasaan kepada manusia lain tentunya menjadi wajar bagi manusia seumuran kita. mencintai secara terbuka atau menyimpan rasa dengan sembunyi-sembunyi itu pilihan kita. keduanya adalah pilihan yang tidak merujuk pada suatu pernyataan bahwa yang satu benar dan yang lain adalah tolakannya. yang jadi pertanyaan adalah alasan dibalik kita mencintai orang tersebut. apakah niatan kita sudah benar karena Allah semata atau terbawa nafsu belaka?
tidak ada yang namanya pacaran dalam kepercayaan saya. Syariat Islam memfasilitasi dua orang manusia yang hendak hidup bersama dikenalkan melalui proses taaruf. Sesuai syariat agama, syar’i, dan yang terpenting menjaga keduanya suci sampai dihalalkan oleh pernikahan. namun begitu, saya pribadi tidak menampik betapa terkadang godaan berpacaran, rasa ingin memiliki & dilindungi oleh kaum adam begitu menjalar dalam diri. apalagi ketika melihat teman-teman yang kesana kemari diantar pacarnya. siapa juga yang tidak senang dipedulikan?
jauh dari hal ini, saya pernah bertanya dalam lamunan saya. lamunan tentang betapa terkadang kesendirian itu tak nyaman juga, lamunan tentang kapan saya dipertemukan dengan imam dunia dan akhirat saya, lamunan tentang apa dosa saya terdahulu diampuni atau tidak, apa dosa saya ini menutup jalan menuju surga? banyak lamunan yang menggiring saya bertanya pada diri sendiri: ‘sudah pernah mencintai sesama makhluk, sekarang sudah sejauh mana mencintai Allah yang memberimu segalanya?’. saya pernah dengar suatu kalimat, begini bunyinya :’betapa seseorang yang miskin diuji dengan kemiskinannya, dan orang kaya diuji dengan kekayaannya’. betapa orang miskin diuji dengan kesabarannya untuk tidak mengeluh dan senantiasa bersyukur di kondisi serba terbatasnya dan orang kaya diuji agar jauh dari sifat sombong dan tak berderma. kalimat ini mungkin jawaban atas keluhan saya.
kita sama-sama diuji, hanya saja dengan cara yang berbeda. sebuah kalimat menampar saya sore ini : “KETIKA KAMU MENCINTAI SESEORANG, TUHAN SEDANG MENGUJIMU, SEBERAPA BESAR CINTAMU KEPADA-NYA.” (masgun)
ketika perasaan ini terpaku untuk dilabuhkan pada sesama makhluk, seberapa besar ruang pikiran yang kita sisakan untuk mengingat Allah? disitulah kita sedang diuji. jika kamu mencintai seseorang sepenuh hati, maka bagian hati sebelah mana lagi yang kamu gunakan untuk mencintai Allah? semoga perasaan dan kehormatan kita terpelihara sampai tiba saatnya datang lelaki terbaik yang Allah kirimkan, laki-laki shiddiq, tabligh, amanah dan fathonah yang mencintai wanitanya karena Allah Swt. Seorang imam untuk keluarganya, pembawa kebaikan bagi istrinya, dan teladan bagi putra-putrinya. Seseorang yang senantiasa mengingatkan agar mencintai Allah diatas segalanya.
March 2013
3 posts
“you know it’s funny how freedom can make us feel contained. when the muscles aren’t used to all the walkin’
i know if you could snap your fingers then you’ll escape with me but in the mean time i’ll just wait here and listen to you when you speak, or scream.
and every day that you wanna waste, that you wanna waste, you can
and every day that you wanna wake up you wanna wake, you can
and every day that you wanna change that you wanna change, yeah
i’ll help you to see it through, cause i just really wanna be with you.”
Foster The People - Waste
has been played 345906789356 times. and always be my favorite gloomy song.
Hidup ini penuh dengan pertanda ya. Satu pertanda dapat berisi beberapa kode. Ya! Kode-kode itulah yang harus kita pecahkan. Entah, bagaimanapun caranya.
Implementasi paling sederhananya adalah, menghubungkan antara kedua mata kita dengan mata si pemberi hint, lalu mengirimnya ke neuron masing-masing dan mengartikannya sendiri di dalam prosessor paling canggih, otak kita. Lalu akan fix klop? Belum tentu. Ada berbagai hipotesa-hipotesa yang berserakan di otak. Mengantri dan menunggu. Untuk membentuknya menjadi jawaban paling sempurna, dibutuhkan kode kode yang lain untuk mempertegas hipotesa-hipotesa itu.
Dibutuhkan berkali-kali kontak mata untuk memastikan apakah hipotesa yang kita miliki dengan hipotesa pemberi hint sudah cocok atau mungkin tidak terjadi kesamaan dalam mengartikannya. Beda kepala, tentu beda jawaban.
Ya memang selalu begitu, bukankah hidup ini memang perihal cari mencari dan cocok mencocokkan? Membuka hint yang satu, lalu menutup yang satunya, membaca hint dan mengartikannya, atau menghapus kode yang dirasa tidak perlu. Yang harus selalu ada dalam setiap pelaku dan penerima kode ialah master yang selalu tersimpan dalam otak. Master yang berisi mindset “imun” yang sesuai dengan kadarnya, dan idealisme.
Memang terkadang sering ditemukan kesulitan-kesulitan dalam membaca kode-kode, namanya juga kode, tidak diciptakan untuk begitu saja dapat kita baca, kesulitan ini bisa saja merasuki pikiran-pikiran dalam tubuh, menjadikannya terlihat sangat sulit sampai kita lupa bagaimana caranya berpikir jernih. Semuanya akan terlihat gelap, lusuh, kusut.
Kusut. Dan kusut. Padahal yang perlu kita lakukan hanyalah menarik benang merah dari untaian kode yang sedemikian panjang itu. Memang, manusia senang dengan hal-hal rumit. Tapi, disitulah seninya.
Tulisan ini ditulis dalam keadaan sadar,
Selamat malam, selamat membaca pertanda.
14/03/12 21:30
Mandaprams
February 2013
11 posts
R.A. Kartini
jangan berhenti belajar ya, perempuan-perempuan. karena ibu-ibu yang cerdas akan melahirkan anak-anak yang cerdas pula :)
setelah melewati libur yang lumayan panjang, akhirnya kembali ke rutinitas perkuliahan. semester 2! sumpah semester ini dapet jadwal yang sangat-sangat manusiawi hahaha. kenapa? soalnya semuanya dimulai dari jam setengah 10 sampe jam setengah 3 sore. beda jauh sama semester 1 yang tiap hari dapet jadwal mulai dari jam 7.
btw, lagi rindu sama kehidupan ansos nih.rindu sama momen secuek-cueknya sama keadaan sekitar. rindu ngepoin akun-akun musik, bukan akun yang onoh. ga menye-menye kecuali kalo ketemu sama ujan. ah, pokonya 2 minggu ini sedang dihantui perasaan-perasaan sampah. ga banget, bye!
Endirina Dor Highborne !: Buat Mahasiswa Yang CUMA Bangga Sama IP 3.5
Originally Posted by Dyama
Disadari atau nggak, mahasiswa di era pasca soeharto lengser cenderung lebih berbeda dibanding dengan mahasiswa sebelum soeharto lengser. Setidaknya, dari intensitas ngomong, mahasiswa jaman sebelum soeharto lengser lebih vokal ngomong di luar urusannya sama…


